Posts

Never Let You Hurt ( Part 2 )

Image
Senja sudah mulai muncul saat aku melewati gerbang rumah sekaligus mobil ayah yang sudah terparkir di depan. Aku tahu, hari ini Aryo tidak menjemput Kinal, jadi mungkin dia sedang berada di dalam rumah sekarang. Buru-buru aku masuk melewati pintu rumah. Belum sampai aku masuk ke kamar, seseorang bersuara di ruang tamu. “Tumben baru pulang sekolah,” suara tersebut menghentikan langkahku. Aku membalikkan badanku padanya. Terlihat Aryo tengah duduk membaca buku. Aku kira selama ini dia tidak suka membaca.

Never Let You Hurt ( Part 1 )

Image
Halte. Tempat favoritku untuk berteduh. Menghindari terik matahari yang menyiksa, saat waktu pulang sekolah tiba. Aku duduk seperti biasa, di bawah atap halte yang setiap siang menemaniku menanti bus kota, sekaligus menanti seseorang yang telah lama aku puja. Sekitaran satu menit setelah aku duduk di atas bangku halte yang memanjang, sosok tersebut akhirnya datang. Dirinya dari kejauhan tampak perlahan mendekatiku. Rambutnya yang sebahu menari-nari seiring dengan langkah kakinya yang pasti. Bukan, dia mendekatiku bukan karena mengenalku, melainkan karena ingin berteduh juga. Dia juga tidak mau terik matahari membakar kulitnya nanti. Terlebih lagi halte tersebut juga bukan milik ayahku, jadi siapapun boleh berteduh di tempat pemberhentian bus ini. Termasuk dia, wanita penuh pesona.

Pajama Run

Image
Malam berbalut angin dingin. Masuk ke dalam kamar, melalui pori-pori manapun. Hawa dingin dari luar, seketika menular ke dalam kamar, membuat suhu ruangan menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Dia menutup jendela kamar, mengurangi kemungkinannya menggigil di dalam ruangan. Setelahnya, dia kembali sibuk membelai buku pelajaran, di sebuah kursi belajar kesayangannya. Digigitnya bibir bawahnya, sembari membiarkan dahinya mengernyit. Sepertinya sedang berusaha untuk menyerap semua kalimat yang sedang dia baca. Tapi tetap saja, semenjak satu jam yang lalu, dia masih saja bingung dengan maksud buku yang dibacanya.

Rencana di Ruang Tamu

Image
Lagi-lagi, ketukan itu terdengar. Ketukan yang hampir setiap hari mengusikku saat senja sudah mulai bergerak ke ufuk barat. Sedetik kemudian, aku melirik jam yang melingkar di tanganku. Tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan sosok yang hadir di balik pintu tersebut. Itu pasti dia, Sinka yang kebetulan memang rumahnya bersebelahan denganku. Dengan langkah gontai, aku membukakan pintu untuknya.

Kedai Baru Seberang Jalan

Image
Aku grad, kalian jangan sedih ya.. Suara langkah kaki terdengar beraturan. Ayunan kakinya yang pasti perlahan membawanya ke suatu tempat. Tak butuh waktu lama, laki-laki tersebut sudah berada di sebuah kedai minuman yang sudah menjadi tempat favoritnya sepulang kerja. Sebuah kedai sederhana yang remang namun banyak pengunjungnya. Tapi entah apa yang telah terjadi,  kali ini kedai itu sepi, yang terlihat hanyalah seorang penjual yang tengah duduk menatap dagangannya yang tak selaris biasanya.

Terlambat Memang

Image
Unyu betzzz Aku duduk sendiri, saat hujan beramai-ramai menghempaskan diri ke bumi. Duduk di halte, sembari menanti jemputan bus yang biasanya sudah tiba saat senja bekerja. Tapi ini hujan, tak ada senja untuk hari ini. Mungkin bus tidak akan lewat.  Kanan kiri, mataku mencoba menelusuri percikan hujan, sampai kemudian kudapati bayangan seseorang yang sedang berlari mendekat. Tentu saja dia ingin berteduh, tidak ada manusia yang ingin sakit dan masuk rumah sakit besuk.  Terlihat dia menggunakan tangannya seakan menjadi payung untuk dirinya. Padahal percuma, bajunya sudah basah kuyub. Keringatnya sudah bercampur dengan air hujan. Tapi setidaknya, dia telah berusaha untuk menghindarkan tubuhnya dari air hujan. Walaupun dia tahu, hal itu akan percuma saja. Tak perlu waktu yang lama untuk mengenali sosok tersebut. Dari alisnya yang tebal, matanya yang sayu, aku sudah bisa menyimpulkannya. 

Sonichi

Image
Sonichi, sudah berapa kali kata tersebut keluar dari mulut mereka. Mereka yang duduk di sekelilingku, sembari menunggu pertunjukan di ruangan remang ini. “ Sonichi… “ terdengar lagi. “ Sonichi..” lagi-lagi terdengar dari mulut yang berbeda. Baiklah, memang dimaklumi.  Hari ini memang hari yang paling ditunggu. Apalagi bisa berkesempatan masuk dan menjadi saksi dari debut setlist baru ini. Jadi tidak heran jika banyak yang mengucapkan kata itu. Hanya saja kata  tersebut  memang tidak  aku suka. Entah apa alasan Tuhan membuat kepalaku pening saat mendengarnya.