Posts

Showing posts with the label Flash Fiction

Senyum Tipis Menyebalkan

Image
Semua orang juga tahu bahwa satu poin yang selalu dikenang oleh perempuan dari seorang pria adalah dari bagaimana dia tersenyum. Lengkuk bibir yang melebar, seakan mampu merobohkan tubuh, memang menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu. Tak terkecuali Naru, mahasiswi sastra Jepang, yang sedari tadi menghayal tentang keindahan senyum, tampak sangat bodoh sekarang. Bahkan jika ada banyak mahasiswa yang lewat di depannya pada saat itu, mereka akan mengira bahwa Naru bukanlah bagian dari kampus. Melainkan orang gila yang sedang menyusup di taman fakultas. Sungguh itu sangat berbahaya, bukan? Setidaknya untuk nama baik keluarganya.

#Wmatsui - Rose

Image
Rena tak mengerti dengan sebuah mawar yang muncul di hadapannya sekarang. Rasanya sangat sulit untuk mengangkat sebelah tangan, dan menerimanya begitu saja. “ Arigatou , chotto-” Tenggorokan Rena tercekat. “ Nani? ” ekspresi Jurina berubah. Firasatnya memburuk, “Kau bilang kalau kau sudah memaafkan aku, bukan?” Rena mengangguk mantap. Tidak ada keraguan yang ada pada dirinya untuk perihal tersebut. Dia memang telah memaafkan semua kesalahan Jurina. Bahkan sekecil apapun itu. “Hanya saja-“ Kedua alis Jurina terangkat. Membuatnya geram, “ Nani yo? Terimalah mawar pemberianku ini! ” , paksa Jurina. Rena melirik Jurina sekali lagi. Kemudian menghela napas untuk sesuatu yang tak pernah dia sangka sebelumnya. “Dunia kita sudah berbeda, Jurina-chan. Cepat kembalilah!”  -end- Note : *Arigatou : Terima Kasih. *Chotto : Sebentar dulu. *Nani? : Ada apa?

Juri-chan

Image
“Takahashi Juri  desu ne ?” “ Hai .“ “Hmm…” “Ano, nan desu ka? ” “ Kawaiii desu ne ,” ujar laki-laki di depan Juri. Sembari melempar senyum genit yang membuat Juri tampak kesal dan ingin memukulnya. “ Nani yo? ” pekik lelaki itu sembari terkekeh. Kedua lengannya menahan tamparan Juri di lengannya. “ Usoo!  Mana mungkin dia akan segenit itu,” Juri-chan mengelak. Beberapa saat kemudian, tatapannya kembali lesu. Membuat Tano mendengus pelan kembali.

Sore

Image
"Sampai berapa kali aku harus bertemu denganmu?" “Maaf. Aku terlambat.” Sesosok pria tambun dengan rambut lebat tiba-tiba saja membungkukan badannya di hadapanku. Tepat saat aku berniat untuk beranjak pergi dari tempat yang hampir sejam lamanya aku tempati. “Hei, Frieska. Kau sudah lupa denganku?” ujar pria tersebut kembali, sembari menarik kursi kosong yang ada di depanku, lalu duduk begitu saja. Sementara sorot matanya seakan tengah mempermainkan aku yang tampak kebingungan dengan tingkahnya, yang bisa dibilang sok akrab. Padahal, aku sama sekali tidak mengenalnya. Sumpah demi Tuhan, tidak ada bayangan wajahnya dalam ingatanku. Tapi tunggu, bagaimana dia bisa tahu namaku?

Bidadari

Image
Jemarinya sungguh lentik. Terlihat lembut dan halus bagaikan sutra. Kedua alinya melengkuk elok. Indah bagaikan pelangi yang menghias langit seusai rintik hujan tiba. Tutur katanya terdengar sopan. Menyentuh lembut hati, meniup angin sejuk masuk ke arteri.  Setidaknya itu semua lah yang terbesit di dalam, tepat saat sosoknya hadir di depanku sekarang.  "Hey," dia membangunkanku dari lamun. "Ah ya?" "Jadi?" tanyanya sembari memperlihatkan secarik kertas kepadaku. Sembari menunggu diriku berucap.  "Aku tahu. Tidak jauh, kok." jawabku sembari melayangkan senyum terbaik. Walau sebenarnya tidaklah lebih baik dari senyum yang dia lontarkan. "Saya antar. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari alamat ini." Dia mengangguk. Ya mengangguk begitu saja. Seperti tanpa menaruh curiga sedikitpun. Sebelah tangannya meraih helm pemberianku. Kemudian duduk di belakang dan menggenggam erat kedua sudut kemejaku Sungguh. Jantu...

Maafkan Aku

Image
Aku bisa mendengar suara langkah kaki mendekat, tepat saat suara pintu rumah terbuka dan kemudian tertutup kembali.  Tanpa menoleh pun, aku tahu siapa dia. Seseorang yang telah lama membuat jantungku berdetak tak biasa. Seorang wanita yang sudah lama tahu bagaimana cara membuatku nyaman setiap kali berada di sampingnya.  Intinya, aku mencintainya.  Telingaku masih mendengar suara langkah kaki tersebut. Pikirku sudah terbiasa menebak bahwa dirinya nanti akan memelukku dari belakang. Mencium rambutku, dan sesekali menggigit telingaku dengan manja.  Ya seperti biasa. Dirinya akan membuat aliran darahku berdesir tak menentu setiap kali bertemu.  Aku menunggu. Pada sofa yang aku gunakan untuk menonton TV sekarang, tubuhku tak sabar untuk menanti pelukannya. Kemudian membiarkan bibirnya melacak harum pada leherku dan menggigit telingaku dengan lembut. Namun sayang, hari ini dia berlalu dan langsung berdiri di hadapanku. Melayangkan air mu...

Kamar Terlarang

Image
"Ayah melarangku sejak kecil." Hari ini seperti biasa. Aku pulang terlambat. Beberapa lembar kertas yang tertumpuk di meja kantor lah yang menjadi penyebabnya. Memaksaku untuk lembur dan mengabaikan waktu pulang kerja. Sebenarnya hal itu bukanlah perkara yang serius. Aku sangat menyukai pekerjaanku. Tak masalah jika memang harus pulang dini hari sekali pun. Hanya saja belakangan ini aku sering merasakan ada yang aneh di rumahku. Seperti ada sesuatu yang membuatku melirik sinis ke arah salah satu kamar yang ada di dalam rumah. Sebuah pintu kamar yang sangat dosa untuk aku buka. Mengeluarkan bunyi aneh sepulang kerja. Ayahku lah yang melarangnya.

Imam

Image
Pintu kamar sedikit terbuka. Sementara seorang ibu tengah mengamati anaknya dari sela-sela pintu tersebut. Beliau mendapati putranya tengah melaksanakan sholat di samping tempat tidur. Beliau kemudian menangis. Bersyukur kepada Tuhan. Baru kali ini dia melihat putranya sudi menggelar sajadah. Bersimpuh dan bersujud. Membaca alunan asma Allah dari bibirnya. Padahal sebelumnya, anak tersebut jarang pulang ke rumah. Berkeliaran ke klub malam, dan tidur di rumah teman. "Anakku."

Basketball

Image
Aku mencitaimu, bahkan sebelum kau tahu sedikit pun. Seseorang pernah berkata padaku bahwa suatu hari nanti akan ada hari yang sangat tidak kau inginkan. Sangat tidak kau harapkan, dan rasanya ingin sekali kau menyesali semua yang pernah kau lakukan yang terbukti hanya membuang waktumu saja. Bahkan bisa jadi, penyesalan tersebut akan membuatmu tenggelam dalam kesedihan yang mungkin saja tak akan ada ujungnya untuk dirimu sendiri. Percayakah kau pada hal tersebut? Dulu aku tak percaya. Tapi sekarang aku tahu bahwa kebenaran itu ada di depanku sekarang. Dirinya tengah menggaruk kepalanya, dengan balutan jas hitam menghias tubuhnya. 

Last Hug

Image
Gadis itu sangat keras kepala. Bahkan melebihi kerasnya tebing yang berada di samping kami sekarang. Berdiri berhadapan, diterpa angin yang membelai lembut hitam legam rambut kami berdua. "Aku sudah bilang. Jangan pernah mengatakan hal seperti itu," ketusnya. Menunjuk tubuhku dengan salah satu jemarinya yang lentik. Menatapku dengan pandangan seolah hendak menerkamku. "Kenapa? Apa aku salah?" "Jelas!" jawabnya cepat. Membuatku cukup terhenyak,"jangan pernah merayuku lagi. Karena aku tidak menyukaimu." "Tapi ... " kataku pelan. Sedikit melangkah kaki ke arahnya. Membuatnya mundur sedikit. "Jangan mendekat. Selangkah saja kau mendekat. Kau akan tahu akibatnya." ancamnya membuatku cukup kebingungan. Air mukanya semakin memerah. "Tapi aku menyesal, Nal." kataku lagi kepadanya. Telinganya seperti sudah tuli untuk mendengar semua penjelasanku, "aku ingin kau kembali menjadi milikku." "Sem...

Autumn Leaf

Image
" Ada setiap kenangan untuk setiap daun yang gugur dari tangkainya. " Angin di bulan September. Musim gugur telah tiba. Serpihan daun yang jatuh dari pepohonan perlahan menghiasi jalan sepanjang kota Akibahara. Udara berhembus dingin. Mengalir sepoi membelai setiap ujung rambut. Menemani perjalanan pulang seorang gadis bersama sepeda kesayangan. Gadis tersebut tersenyum. Selalu saja tersenyum. Rona wajahnya selalu cerah tatkala musim gugur menyapa. Entahlah, mungkin dedaunan kuning yang berserakan di depan matanya, membawa arti tersendiri untuknya. Membawa kekuatan tersendiri untuk hatinya yang terasa rapuh belakangan ini. Kedua kakinya kompak. Mengayuh sepeda dengan kuat. Pikirannya tak pernah terpusat untuk apa dia mengayuh secepat itu. Tubuhnya terlalu antusias untuk menjalani hari pertama di musim gugur. Menyempatkan sebagian waktu bersama daun malang berjatuhan.

Early Ring

Image
Jauh-jauh aku ke sini. Susah-susah aku mencarimu.  Hanya ingin memberikan apa yang seharusnya milikmu. Sudah sekitaran dua menit lamanya, wanita tersebut tersenyum ke arah Veranda. Membuat tatapan yang riang dan memandang lekat dengan air muka yang seperti ingin memeluk gadis di depannya. Dua menit pula lamanya, Veranda masih tak mengerti dengan wanita yang ditemuinya di kafe itu. Walaupun wanita tersebut terlihat seperti model majalah terkenal - sangat cantik, tapi tetap saja dia tidak mau jika ada orang yang memandangnya dengan tatapan seperti itu.  "Kau bukan psikopat kan?" Veranda memberanikan diri memulai. Sebuah ucapan yang terbilang lancang untuk seseorang yang belum dia kenal. Tapi tampak familiar di matanya.  Wanita tersebut menyunggingkan senyum. Sudut bibirnya terangkat. Membuat pesona wajahnya yang cantik seolah menebal hanya dengan senyuman tipis tersebut. Sebelah tangannya meraih secangkir kopi hangat dan menyesapnya dengan pelan. ...

Debt

Image
Ibu adalah segalanya Tangannya dingin. Aku masih bisa merasakan kegelisahannya sekarang. Bahkan kedua matanya yang tampak berkaca, membuat otakku yakin bahwa dia tidak bahagia dengan semua rencana yang telah dilaluinya.  Kuseka dengan sebelah tanganku bulir bening matanya. Sedikit meniupkan hembusan untuk nafasnya yang tersedu. Pipinya yang gemuk perlahan memerah dengan semburat wajah yang muram.  "Sudahlah, " kataku menguatkan hatinya yang mungkin saja rapuh."Kau tak perlu menangis lagi," kuusap lembut tangannya. Masih terasa lembut seperti hari sebelumnya. "Semua sudah menjadi suratan takdir dari Tuhan."  Matanya membulat. Aku sedikit terkejut dengan peralihan tersebut. "Kau bilang apa?" serunya padaku. " Suratan takdir ? " Aku diam tak menjawab sama sekali.  "Ini bukan takdir. Ini salahmu !" katanya mengerutuki perasaanku. Dia melepas genggamanku dan menunjukku dengan tegas.  "Semua tidak a...

Aku Sangat Mencintaimu

Image
Siapa bilang dirimu itu tak bisa kumiliki. Bahkan jika tak boleh sekalipun, aku akan membawamu ke suatu tempat yang sunyi sepi.  " Kau tahu, aku sangat mencintaimu, " sebuah kalimat tersebut sejak dulu selalu saja kuucapkan. Namun telinganya seperti tak mengerti bahwa ucapanku tak pernah sedikitpun berdusta. " Aku juga sangat mencintaimu, " " Tapi mengapa kau menolak untuk pergi bersamaku? " tanyaku dengan seribu kekesalan yang menumpuk di dalam otak. Membuat kedua telingaku memerah. " Aku tidak mau membuat orang tuaku marah. Aku tidak mau durhaka kepada mereka. " sebuah omong kosong terucap dalam bibirnya yang tipis. " Bohong ! " pekikku menyentuh kedua pundaknya. " Omong kosong ! " dia membuang pandangan. " Jika memang kau mencintaiku, kau harus ikut denganku, " ucapku melekat ke arah matanya yang berkaca-kaca.

Untold Truth

Image
“ Luhan ? Salam kenal, kak, “ Kalimat tersebut masih terngiang dalam pikiran. Sebuah kalimat sederhana tersebut entah dengan sihir apa telah melekat di otak pria tampan bermata sipit tersebut. Hingga membuatnya sulit tidur belakangan ini.   Semuanya jelas berawal dari rasa ingin tahu. Saat dirinya menemukan sebuah keramaian di salah satu sudut mall terkenal di Jakarta, dahinya mengerut penasaran. Terlebih lagi ketika kedua matanya mendapati sosok temannya bernama Suho, tengah berdiri ikut terlibat dalam kerumunan di sana. “ Aku nggak tahu ginian, “ “ Ayolah. Apa salahnya mencoba? “ bujuk Suho membuat Luhan berpikir untuk sementara waktu.  

You Were Only Mine

Image
Ketika hari menjelma gelap. Ketika senja sudah resmi tertutup oleh gunung yang tak pernah kau harapkan. Saat tubuh mulai senggang untuk kau baringkan di atas tikar dambaanmu, aku sering memutuskan untuk memikirkan sebuah hal yang menurutku membingungkan. Pernahkah kau berpikir bahwa sebenarnya aku tak pernah melakukan ini sebelumnya. Saat senja lenyap diterkam malam, aku tak pernah sedikitpun menyisihkan waktuku untuk memikirkan sebuah hal yang tidak penting seperti ini. Sebuah hal memikirkanmu, yang aku pikir sudah jelas apa yang akan aku dapatkan di ujung nanti.

Midnight Lake

Image
Segala persiapan sudah selesai. Berawal dari recording, kemudian latihan koreografi, telah mereka lalui hari ini. Semua member yang terdaftar menjadi senbatsu Pajama Drive Revival Show 2014 tampak kelelahan di ruang ganti dengan segala aktivitas yang menimpanya. Seraya berkemas untuk meninggalkan tempat latihan. Pukul 22.14 , sebuah lift lantai dasar perlahan terbuka. Meninggalkan nada khasnya yang terdengar jelas di telinga. Dari lift tersebut lah kemudian muncul dua insan ciptaan Tuhan . Berjalan beriringan serta bergandengan tangan. Saling merapatkan tubuh, hingga timbul kesan mesra dari sela-sela tubuhnya. Langkah mereka kompak menuju parkiran mall, kemudian masuk ke dalam mobil yang sejak tadi pagi memang sudah diparkir di sana.  Segera saja seperti hari biasanya, Veranda mengambil alih kemudi, sementara Kinal akan duduk di jok samping kiri sahabatnya tersebut.

Interview

Image
Duduk berdua. Berdampingan. Salah satu darinya menggenggam sebuah mic. Sepasang telinga telah mereka pasang dengan benar. Begitu juga dengan sorot matanya yang tak kalah fokus dengan beberapa lensa yang membidiknya kini. Sebuah interview dari salah satu media terkemuka tengah berlangsung sekarang, tepat di teather kebangsaan JKT48. “ Saudari Kinal, “ “ Ya? “ “ Bagaimana pendapat anda tentang Live Streaming yang akan dihelat saat Pajama Drive Revival Show nanti ? “ Seorang wartawan menghentikan perkataanya, kemudian memberikan kesempatan untuk gadis manis berambut sebahu menjawab pertanyaan yang dia ajukan.

I'm Sorry

Image
Aku masih tak mengerti, kenapa dadaku terasa sesak saat melihat tawanya mengembang di ujung sana. Padahal dulu tidak. Dulu aku selalu bahagia tatkala dirinya memperlihatkan giginya yang rapi tersebut. Selalu bahagia saat bibirnya membuat semburat kepuasan dengan tawanya yang meledak. Tapi kini, tawa yang dihasilkannya bukanlah untukku. Melainkan untuk orang lain. Senyum yang dihasilkan juga bukan karena aku. Melainkan karena orang lain. Sungguh, aku rindu sekali, dengan bagaimana cara dia tertawa dan caranya pula membuatku tersenyum. Namun aku bisa apa sekarang ? Aku seperti manusia yang sudah tak berarti lagi untuknya. Bukan lagi seperti dokter yang membawakan obat untuk pilunya. Karena menurutnya, diriku sudah terlanjur menggoreskan luka di hatinya.

Aku Kangen Kamu

Image
  "Sudah sampai, " Kalimat pertama yang dihembuskan Kinal saat dirinya sudah tiba di bandara. Setelah duduk mematung hampir 4 jam lamanya di dalam pesawat, akhirnya nafas leganya berhembus kembali di Jakarta. Dilihatnya ke arah sekitar. Mencoba meyakinkan diri dan menggali memori di pikirnya bahwa dirinya memang sudah sampai di Jakarta. Sampai kemudian dia tersenyum tepat setelah matanya mendapati sosok gadis cantik yang telah berdiri menunggunya di sebuah kursi tunggu bandara. Dia masih ingat betul siapa namanya