Posts

Showing posts with the label Puisi

Siapalah Aku Ini

Image
Siapalah aku ini? Kumpulan kata pemersatu yang membuatku mundur dari mendapatkanmu. Kumpulan kata yang sejak dulu selalu membantuku untuk sadar dan kembali ke jalan yang benar. Jam berdering dengan kencang. Seakan ingin menulikan sepasang telinga. Segerombol menyerupaiku keluar dari ruang kelasnya masing masing. Sembari membawa tas dan bergerak cepat bagai di kejar badai katrina. Begitu juga aku. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Selembar kertas berisi kata kata perasaan yang kuharap mampu mewakili mulut kelu karenanya. Sudah sekitar sepuluh menit, aku berdiri seperti orang gila di gerbang ini. Menanti seseorang yang sudah lama ada di hati. Namun entah kenapa dia tak muncul juga dari tadi. Mungkin sepuluh menit lagi. Sudah sekitar dua puluh menit aku bertahan menjadi orang gila di sini. Menggenggam erat lembaran yang semalam aku rangkai di ruang tengah. Namun rambut lurusnya tak kunjung berkibas di pandangan. Mungkin lima menit kemudian. Benar. Menit ke-dua puluh lima, so...

Terima Kasih, Masa Lalu.

Image
Aku ingat masa lalu. Saat itulah aku mengagumimu. Menulis kisahku, rasaku pada sebuah kertas putih dengan tinta biru. Kemudian aku baca. Demi hayati kata per kata. Membenarkan keganjilan yang mungkin saja masih berdiri di atas sana. Lalu aku baca lagi. Mencoba menyamakan apa yang aku tulis dengan apa yang telah aku rasakan selama ini. Berulang begitu, sampai tercipta puisi sempurna dariku Aku lipat simetris lembaran itu. Lalu ku masukan ke dalam amplop berwarna biru. Ku selipkan dalam saku sembari berjalan menemuimu. Hingga saat itu tiba. Ku dapati kau dengan lain pria. Tengah berjalan bersama layaknya merajut cinta. Dan aku di sini hilang asa.  Sudahlah, dia sudah ada yang punya. Masa laluku kini hanya tinggal. sebongkah puisi yang tertera. Aku, mantan pengagummu. Terima kasih atas semua inspirasi untukku .

Pelajar Jalan Bebatuan

Image
Di atas bumi, kami berpijak. Di atas itulah, kami berjejak. Kaki dengan kokoh menapak. Mengarungi bebatuan sepanjang jalan setapak. Tangan kami mengenggam erat. Sepanjang tali penghubung kali. Perlahan tapi pasti, melawan potensi mati. Putih warna bajuku. Berniat suci menjemput ilmu. Merah warna celanaku. Kami malu jika tak maju. Kami bukanlah sekumpulan sampah yang tengah menunggu penguasa dengan janji palsunya Kami juga bukanlah sekumpulan serpihan negara yang tengah mencari simpati agar semua orang peduli pada kami. Kami adalah sekumpulan pelajar yang butuh keadilan. Kenapa hanya kami sendirian. Yang menapaki jalan bebatuan.

Dream Came True

Image
Dream came true Suprising,  like disaster hadn't confirmed before. It's the fastest way for make you smile. Make you excited for anything had happened. Dream Came True Has invited you to touch its. Has allowed you to be owner its Has permitted you to have unforgetable experience Dream Came True Had made you blind of something. Something that should believe Though never show Itself. And you forgot to be grateful for all had accepted. Dream Came True And then flow away like avoid you. You didn't know what happened. Just cried and wish lucky for yourself. Dream may come true again.

Secangkir Penahan Rindu

Image
Hari ini seperti biasanya. Bayangan, tingkah, dan sikapnya terus menemaniku di hari yang tak berbeda. Sama, setiap kali aku bercermin, bercuci muka seolah dirinya hadir di hadapanku. Di balik cermin dan genangan itulah dia muncul. Mengisyaratkan tanda bahwa akulah yang sulit melupakannya. Apakah aku harus berhenti menunggu? Setiap pagi kuseduh bungkusan kopi penahan rindu. Membiarkan pikiranku terlelap bersama adukan secangkir kopi yang siap untuk disantap. Ah...nikmatnya, bersama embun pagi dan dimanjakan dengan aroma guyuran hujan tadi malam. Setidaknya itu akan membuatku lupa. Walau hanya sementara. Kuhirup aroma kopi buatanku. Dan mungkin inilah aroma terharum sepajang pertemanan kita. Memanjakan dan tak membuatku sakit untuk terus mengharapkannya. Kemudian kulihat warna serbuk kopi buatanku. Dan mungkin inilah serbuk terpekat sepanjang persahabatan kita. Pekat dan kelam akan perasaan cinta yang terus tertimbun di dasar hati yang paling dalam. Lalu kemudian kuputusk...

Cankir Pesona

Image
Aku belajar dari cangkir. Pesonamu bagaikan air mengalir. Sejuk penghilang dahaga kerinduan. Mengisiku penuh Hingga membuatku luluh. Kau buatku terbang. Melupakan segala luka yang tak pantas dikenang. Mengantarku kapada alam Dan memanjakanku dengan keindahan.   Bagiku.... Senyummu adalah permata. Yang akan ku jaga, walau harus bertukar air mata. Perhatianmu adalah mutiara. Yang akan ku jaga walau harus mengorbankan raga. Dan tak ada yang menyerupai bahagiamu, kecuali aku. Karena bahagiamu adalah bahagiaku. Yang akan ku jaga Seperti menjaga diriku dari kesengsaraan rindu. Hingga suatu hari Berirama sudah jantung ini. Berdegup kencang bak halilintar di malam hari. Hari itu sangatlah buruk. Kau berikan kata-kata yang membuat mata berkaca-kaca. Kau tinggalkanku. Begitulah inti dari seribu kata yang kau beri. Setelah semua yang kita lalui. Kau memilih tuk sekedar melewati. Setelah aku berkesempatan di depanmu. Kau m...

Sesombong Bunga Mawar

Image
Ayam lelah berkokok. Dan aku baru bangkit dari pelukan mimpi. Kubuka tirai pelindung, dan tampaknya embun pagi sudah lama menguap merebahkan sayap. Terbang ke atas awan, terurai dalam bentuk lain. Meninggalkan pesan, bahwa mereka akan datang lagi besok pada daun yang sama. Kulihat sekitar taman. Begitu cerah dan bergairah. Kucoba menatap sebentar dan sekejap aku mulai candu. Rasanya ingin selalu menatap bunga yang sombong itu. Baiklah, kali ini dia mampu merebut hatiku. Jujur, bunga sombong itu mengingatkanku pada seseorang. Dirinya seperti bunga mawar. Berwujud elok, namun berduri. Mengancam tanganku saat ingin coba mendekati. Kau jahat sekali. Memasang duri agar engkau terlindungi.

Aku Anak Desa

Image
Aku anak desa Rumahku sederhana Atapnya dedaunan Reruntuhan ranting kenangan Aku anak desa Tak suka memakai sandal Tak gentar menginjak duri Setajam dikhianati Aku anak desa Berjalan menyusuri sawah Bernyanyi riang gembira Mengingat indahnya cinta Aku anak desa Meniup seruling bambu Sembari menjaga kerbau Dan setia menunggumu selalu. Aku anak desa Menyusuri jembatan kayu Membawa sekantong beras Dan sebongkah hati yang ikhlas. Aku anak desa Yang mencintai anak kota Tak peduli berbeda Yang penting saling cinta

Pagi Kenangan

Image
Hujan ini seperti rindu. Menemani kala bangun menghampiriku. Setiap pagi saat fajar masih bernama, dedaunan sudah dingin menganga.  Terbasahi reruntuhan embun langit. Mengalir cepat begitu sengit. Ah masa harus seperti ini. Setiap pagi teringat lagi. Sementara itu, aku lemas dengan tubuhku. Energi terkuras habis hanya untuk melupakanmu. Sesekali aku ingin pergi keluar rumah, namun mataku terpejam dan tak tahu jalan arah. Aku berjalan menyusuri jalan. Menuju ruang, dimana banyak air penantian. Di situlah aku sering bercuci muka. Membersihkan semua pengganggu yang melekat di wajahku. Aku tahu kamu pengganggu, tapi aku tak tahu mengapa air tak ikut mengalir bersamamu. Mungkin saja hatimu belum rela. Membiarkanku pergi bersamanya. 

Untuknya Yang Sulit Terlupa

Image
Kamu itu terbuat dari baja. Kuat dan sulit hancur ketika aku mencoba memukulmu dengan kebencian. Saat hati ini tersiksa akan sakit yang kau berikan, aku membencimu dengan keadaan dusta. Tak benar-benar nyata, dan semacam gertakan yang tak pernah sekalipun kau hiraukan. Memang dari dulu kau tak pernah peduli padaku. Meski aku melambai tinggi, kau tak pernah menganggap lambaian ini untukmu. Ya begitulah kamu. Dingin sekali. Sedingin kutub es yang terletak di bagian ujung jemarimu. Aku siap tersakiti. Seperti kucing yang rela menuggu majikan sampai mereka mau memberikan sebungkus roti. Padahal kucing tak begitu menyukai, namun tetap lahap memakan karena sadar bergantung hidup pada sang pemberi. Ya seperti itulah kamu saat berhadapan denganku. Tak pernah memberikan apa yang aku mau, melainkan sebaliknya. Seharusnya aku benci, namun selalu saja semu dan tak benar-benar nyata bagiku. Siapa saja tolong aku, agar aku bisa melupakanmu. 

Luka Merpati

Image
Serangga mengusik malam Hewan malam bersorak di tengah suram Dan malam tetaplah malam Yang gelap dan semakin kelam Seperti sepi Sepi tetaplah sendiri Sendiri tanpa merpati Putih tulus mencintai Terbang melayang seperti merpati Dibawa syahdu oleh dinginnya angin semilir Bahkan kenangan terhanyut rindu mengalir Kau datang memaksaku berpikir. Hadirku di bawah lekungan luka Ketika kau menangisinya Ku persembahkan cinta Membalutimu dengan suka Kau sembuh karena aku ada Setelahnya Kau lupa Anggapmu luka biasa Andai ku tiada Kau telah binasa

Kembali Dipaksa

Image
Haruskah terjadi lagi? Ketika minat tertandingi oleh miskinnya ekonomi. Ketika hobi harus bertekuk lutut oleh paksaan yang menyudut. Mengubah pikiran, seakan jalan menuju impian terbelokan. Kini, delima itu datang. Di saat persimpangan habis. Dan dihadapkan kembali pada banyak pilihan. Dan terjadi lagi. Hasutan membelot mulai terdengar Yang membelokan arah dan mau tak mau harus dimengerti. Baiklah. Aku mengerti Impianku dipengaruhi ekonomi.

Terjebak Lagi

Image
Jangan berikanku kesempatan lebih, jika pada akhirnya kau menguranginya. Ketika hati ini mulai mekar membuka, tiba-tiba kau merobek semuanya. Aku tahu kau tak bermaksud begitu. Memancing hati dan tak jadi menarik tali. Karena semua ini hanyalah tentang kecerobohan. Membiarkan rasa berkeliaran, seperti tak mengenal kepalsuan. Padahal, pengalaman sudah pernah aku alami. Namun, peduli dan perhatianmu sungguh menembus hati. Membiarkan mata ini menatapmu dan terbawa oleh kepalsuan Kini, kau tak lagi menyapa. Dan membiarkanku menderita, sembari memeluk rasa yang kau sirat dulu kala.

Senja Terabaikan

Image
Senja berlabuh di sore hari Mencoba menampakan diri, walau tubuh tertutupi Awan yang marah, kejam dan licik ini tak bahagiakanku Pesona jingga senja tak mendarat di kelopak mata karnanya. Keberadaan senja mulai terabaikan Jatuhnya beribu titik air itulah yang mereka harapkan Awan mendung itulah yang mereka nantikan Lalu raut wajah bahagia dari mereka mulai terpancarkan Di lain sisi, Senja menangis Tak bisa manjakanku dan hati yang terkikis Terkikisnya hati karna sang kekasih Yang mulai curiga di tengah kerinduan

Delima Pasca Orang Ketiga

Image
Di antara pilihan. Mereka tampak membingungkan. Dua hati yang berhadapan, dan harus secepatnya ditentukan.Kekosongan hati, menunggu sang putri. Membisunya bertahun-tahun sama sekali tak mengubah niatku dalam mengisi. Ku tetap menunggu, walau tertemani cinta yang semu. Walau tak pernah ada titik temu, antara kau dan aku. Hingga datang dirinya. Putri yang lain. Putri yang memberikan perhatiannya dan memahami hati ini. Seolah memberi kehidupan dan menjadikan malam yang berkesan. Berkesannya malam ini sungguh membingungkanku. Ini tak seperti ketika aku padamu, melainkan saat aku padanya. Yang kau bisa hanyalah menjadi sumber kegelisahanku. Dan dirinya adalah penawar gelisah itu. Memberikan suntikan kerinduan hingga sedikit bisa melupakan. Sungguh... Dia hebat mampu memberikan benang sari, dan kau hebat mampu melukaiku dengan duri Lalu.... Haruskah aku pulang dari tempat duduk ini? Yang bertahun-tahun setia menemani. Memberikan tempat tunggu yang berarti, walau...

Cinta Berbeda

Image
Bertahun sudah ku memendam rasa. Menculik bayangmu masuk ke dalam asa. Menjadi bagian semu dalam hidupku. Memainkan bayangmu di pikiranku. Lama sudah aku berikan raga ini kepada anda. Namun. cinta tak pernah sama. Begitu juga aku denganmu dan anda dengannya. Ku cintamu, kau cintanya. Seperti alunan elektron yang selalu mengalir sepanjang berpegangan. Membentuk sebuah struktur cinta segitiga, dan aku tak mengerti mengapa ini bisa terjadi. Rasa yang tak tersampaikanlah yang menjadi alasan. Rasa yang terkekang itulah penyebabnya. Entah sampai kapan ini kan berakhir. Menjadi bagian hidup yang mempunyai akhir. 

Sempat Memilikimu

Image
Ku pikir kaulah hidupku. Yang kan membawaku dalam kesucian cinta. Terikat dengan janji setia, sehidup dan selamanya. Namun, hari ini kau membuat itu rusak. Harapan yang sempat kau berikan, ternyata itu adalah abstrak. Tak jelas dan belum tentu kan nampak. Mengapa kau harus pergi? Meninggalkan dunia dan seisi. Termasuk aku yang telah kau lukai, dan terlanjur mencintaimu sampai mati.  Bukankah kau tahu? Bahwa aku cinta kamu. Ku berikan segala apa yang kamu mau. Selagi itu tak menyebabkan kebaikan dan keburukan beradu.  Bisakah kau datang sekali lagi? Bersandar di pundak ini. Bercerita sesuka hati, hingga larut malam nanti. Namun, aku tahu. Itu tak akan terjadi. Walaupun begitu, aku sempat memilikimu. 

Pengusap Air Mata

Image
Malam yang kelam. Seperti sepinya makam, dan hembusan angin yang serasa begitu mencekam. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menatapi bintang. Becermin kepada langit dan menatapi rupa yang begitu malang. Malang nian nasibku, begitu juga dengan hatiku. Hati yang seperti robot dan kaulah pemiliknya. Pemilik yang selalu menggunakan aku kala kegundahan menerpamu. Kesedihan yang begitu pekat, hingga kau datang mendekat. Dengan membawa genangan air yang hampir menetes dan merambat.  Air mata yang merambat itu bagaikan tugasku. Mengusapnya, sementara kau mencurahkan kesedihanmu.  Ku usapkan seperti mengusap bola kristal di tengah-tengah kemiskinan. Dan setia mendengarkan curahanmu yang begitu pahit untuk dirasakan.  Namun kesedihanmu itu tak seburuk dibanding kesedihanku. Yang selalu mengusapkan air matamu dan melihat kau terluka bersamanya. 

Sekali Ini saja

Image
Janji pernah kita dendangkan. Bulan menjadi saksinya. Malam itu memang membahagiakan, namun tidak untuk malam ini. Aku kebingungan, serentak berkata "Kenapa kamu putuskan hubungan ini?" Kenapa? Aku yakin, kau takkan lupa malam itu. Malam-malam yang telah memberi kita petunjuk, bahwa kaulah yang pendamping hidupku. Bahwa kaulah jodoh dan sebagai cinta terakhirku. Namun, keyakinanku salah besar. Kita bukan jodoh. Kau bukanlah cintaku, apalagi cinta terakhirku. Bukan sama sekali.  Aku tak bisa menyalahkanmu, hanya karena kebosanan menimpamu. Yang ku bisa hanyalah merelakanmu, namun tidak untuk membencimu.  Tak bisa ku membencimu. Tak bisa ku melupakanmu. Bolehkah aku mencintaimu? Sekali ini saja. Agar sakit yang melekat di hati, tak menjadi luka yang abadi. 

Waktu Yang Tepat Untuk Berpisah

Image
Hari ini adalah hari terburuk dari hari lainya. Hari dimana menggenggam tanganmu itu adalah sebuah anugrah terbesar dalam hidupku. Anugrah yang nantinya bakalan dilarang untuk dilakukan ulang. Sebelumnya kita telah lama membicarakan masalah keyakinan yang berbeda ini. Lalu bernegosiasi dengan orang tuamu dan hasilnya nihil. Orang tuamu memilih kita tuk berpisah. Apakah keyakinan harus dibicarakan?  Apakah keyakinan harus dipermasalahkan? Dan Apakah keyakinan harus memaksa kita untuk berhenti sampai disini? Bulat sudah keputusan bapakmu. Dan tak ada lagi negosiasi terulang bersamanya. Sekarang, tinggal pasrah lah yang menjadi pilihan terakhirku. Dan merelakanmu adalah senjata terbaik untuk menghadang kegalauan. Biarkan taman ini, menjadi saksi cinta kita. Saksi akan gugurnya sebuah jalinan yang luar biasa.  Kini ku lepaskan genggamanku. Dan langkah kakinya semakin menjauh seiring pertambahan waktu. Dia tak lagi menoleh. Menoleh dengan tatapan segalan...