Posts

Showing posts with the label Fanfiction JKT48

Senyum Tipis Menyebalkan

Image
Semua orang juga tahu bahwa satu poin yang selalu dikenang oleh perempuan dari seorang pria adalah dari bagaimana dia tersenyum. Lengkuk bibir yang melebar, seakan mampu merobohkan tubuh, memang menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu. Tak terkecuali Naru, mahasiswi sastra Jepang, yang sedari tadi menghayal tentang keindahan senyum, tampak sangat bodoh sekarang. Bahkan jika ada banyak mahasiswa yang lewat di depannya pada saat itu, mereka akan mengira bahwa Naru bukanlah bagian dari kampus. Melainkan orang gila yang sedang menyusup di taman fakultas. Sungguh itu sangat berbahaya, bukan? Setidaknya untuk nama baik keluarganya.

Pita Merah

Image
Apa yang lebih ramai dari sebuah demo mahasiswa di jalanan? Tentunya adalah sebuah perbincangan anak muda di kantin, pada saat jam istirahat pertama. “Kalian sudah tahu?” ujar seorang siswi berambut sebahu. Terkejut bahwa berita yang baru saja dia ceritakan sudah cukup menyebar di kalangan temannya. “Iya. Aku saja masih tak percaya.” tanggap siswi lain, seraya menghela napas. “Masa’ iya sih?” “Aku juga tidak tahu apakah itu hanya sensasi saja. Tapi aku baca itu di internet,” tegas sekali lagi siswi pelopor perbincangan tersebut. “Oh. Tidak!” seru mereka, seraya menunjukkan air muka kekesalan. Seakan-akan hanya merekalah yang paling dirugikan dari berita tersebut. Padahal, kenyataannya tidak. Ada yang lebih dirugikan dari mereka. Bahkan, lebih rugi dari orang yang diberitakan. Seorang siswi yang tengah sendirian di salah satu meja samping merekalah yang paling dirugikan. Siswi yang sejak tadi mendengar semua perbincangannya. Sekali lagi, Semuanya.

Sore

Image
"Sampai berapa kali aku harus bertemu denganmu?" “Maaf. Aku terlambat.” Sesosok pria tambun dengan rambut lebat tiba-tiba saja membungkukan badannya di hadapanku. Tepat saat aku berniat untuk beranjak pergi dari tempat yang hampir sejam lamanya aku tempati. “Hei, Frieska. Kau sudah lupa denganku?” ujar pria tersebut kembali, sembari menarik kursi kosong yang ada di depanku, lalu duduk begitu saja. Sementara sorot matanya seakan tengah mempermainkan aku yang tampak kebingungan dengan tingkahnya, yang bisa dibilang sok akrab. Padahal, aku sama sekali tidak mengenalnya. Sumpah demi Tuhan, tidak ada bayangan wajahnya dalam ingatanku. Tapi tunggu, bagaimana dia bisa tahu namaku?

Nagoya Castle

Image
Sejak kapan dirinya merasa sesepi itu? Hingga berulang kali tolehan kepala telah banyak dibuatnya. Sepi. Tak ada bunyi ponsel terdengar. Sebuah suara yang dia harapkan mampu menggetarkan telinganya, tak kunjung terdengar. Sebuah pesan yang dia harapkan mampu memenuhi kotak masuk ponselnya, tak kunjung terwujudkan. Jangankan memenuhi kotak masuk, menambah satu pesan pun tak juga. Hanya membuat pemilik ponsel tersebut merasa kesal dan hampir menyerah menanti. Sebuah pesan sudah sejam yang lalu dia kirim. Beribu nafas kesal mungkin sudah terhembus dari rongga hidungnya. Otaknya mulai tak mengerti mengapa gadis yang dia harapkan, tak memberi balasan apapun untuknya. Setidaknya satu huruf sebagai balasan atau mungkin emoji untuk menenangkan hati. Tapi tampaknya, gadis yang diharapkannya tak peduli. Seolah tak mengerti bahwa dirinya sudah sedikit banyak menyakiti hati. Membuat kepala Gracia pusing dan merasa penat belakangan ini. Sekali lagi, Gracia harus kuat dengan kenyataan ...

Autumn Leaf

Image
" Ada setiap kenangan untuk setiap daun yang gugur dari tangkainya. " Angin di bulan September. Musim gugur telah tiba. Serpihan daun yang jatuh dari pepohonan perlahan menghiasi jalan sepanjang kota Akibahara. Udara berhembus dingin. Mengalir sepoi membelai setiap ujung rambut. Menemani perjalanan pulang seorang gadis bersama sepeda kesayangan. Gadis tersebut tersenyum. Selalu saja tersenyum. Rona wajahnya selalu cerah tatkala musim gugur menyapa. Entahlah, mungkin dedaunan kuning yang berserakan di depan matanya, membawa arti tersendiri untuknya. Membawa kekuatan tersendiri untuk hatinya yang terasa rapuh belakangan ini. Kedua kakinya kompak. Mengayuh sepeda dengan kuat. Pikirannya tak pernah terpusat untuk apa dia mengayuh secepat itu. Tubuhnya terlalu antusias untuk menjalani hari pertama di musim gugur. Menyempatkan sebagian waktu bersama daun malang berjatuhan.

Untold Truth

Image
“ Luhan ? Salam kenal, kak, “ Kalimat tersebut masih terngiang dalam pikiran. Sebuah kalimat sederhana tersebut entah dengan sihir apa telah melekat di otak pria tampan bermata sipit tersebut. Hingga membuatnya sulit tidur belakangan ini.   Semuanya jelas berawal dari rasa ingin tahu. Saat dirinya menemukan sebuah keramaian di salah satu sudut mall terkenal di Jakarta, dahinya mengerut penasaran. Terlebih lagi ketika kedua matanya mendapati sosok temannya bernama Suho, tengah berdiri ikut terlibat dalam kerumunan di sana. “ Aku nggak tahu ginian, “ “ Ayolah. Apa salahnya mencoba? “ bujuk Suho membuat Luhan berpikir untuk sementara waktu.  

First Bestfriend [ Part 3 ]

Image
Satu hari seperti mengubah semuanya Hari ini cukup menarik. Banyak senyum lucu yang aku lihat. Kedatangan Kris tadi pagi baru saja membuat deretan siswa pemilik senyum lucu di sekolahku bertambah satu. Setelah sebelumnya senyum Kinal yang menurutku terbaik dari semua senyum yang pernah aku temui di sekolah, akhirnya aku menemukan pesaing yang layak untuk menandingi senyumnya. Siapa sangka Kris lah orangnya. Aku masih tak habis pikir kenapa Tuhan menghadirkan satu makhluk menarik lagi untukku. Aku pikir Kinal akan menjadi makhluk yang paling menarik, tapi ternyata Kris datang secara tiba-tiba. Mengubah jalan pikirku untuk terus memujinya. Ah, laki-laki itu cukup luar biasa. Apakah setiap makluk di dunia ini mempunyai sihir yang berbeda-beda ?

I'm Sorry

Image
Aku masih tak mengerti, kenapa dadaku terasa sesak saat melihat tawanya mengembang di ujung sana. Padahal dulu tidak. Dulu aku selalu bahagia tatkala dirinya memperlihatkan giginya yang rapi tersebut. Selalu bahagia saat bibirnya membuat semburat kepuasan dengan tawanya yang meledak. Tapi kini, tawa yang dihasilkannya bukanlah untukku. Melainkan untuk orang lain. Senyum yang dihasilkan juga bukan karena aku. Melainkan karena orang lain. Sungguh, aku rindu sekali, dengan bagaimana cara dia tertawa dan caranya pula membuatku tersenyum. Namun aku bisa apa sekarang ? Aku seperti manusia yang sudah tak berarti lagi untuknya. Bukan lagi seperti dokter yang membawakan obat untuk pilunya. Karena menurutnya, diriku sudah terlanjur menggoreskan luka di hatinya.

Aku Kangen Kamu

Image
  "Sudah sampai, " Kalimat pertama yang dihembuskan Kinal saat dirinya sudah tiba di bandara. Setelah duduk mematung hampir 4 jam lamanya di dalam pesawat, akhirnya nafas leganya berhembus kembali di Jakarta. Dilihatnya ke arah sekitar. Mencoba meyakinkan diri dan menggali memori di pikirnya bahwa dirinya memang sudah sampai di Jakarta. Sampai kemudian dia tersenyum tepat setelah matanya mendapati sosok gadis cantik yang telah berdiri menunggunya di sebuah kursi tunggu bandara. Dia masih ingat betul siapa namanya  

Priceless

Image
“ Maukah kau kembali ceria ? “ Jika saja kau perhatikan dengan seksama. Gadis itu tampak sangat menarik untuk semua pria. Tampak sangat pantas untuk mendapatkan semua pria tampan di dunia ini, dengan balutan rambut panjang sebahu serta poni ciripa miliknya. Namun, di balik silauan wajahnya yang mempesona, hatinya menyimpan luka. Kenangan suram masa lalu membuatnya enggan untuk mendongak ke arah cinta. Bersikap apatis dengan semua laki-laki itu tindakan yang tepat baginya sekarang ini. Tak mau mendengar dan mempercayai setiap gerakan manis yang terucap dalam bibir setiap pria. “ Tidak ada cinta sejati di dunia ini. Sekali lagi tidak ada! Tidak ada cinta sejati untuk wanita sepertiku,“ tegasnya dalam setiap hembusan di bumi. Cinta itu omong kosong, begitulah kalimat yang sudah dia percayai benar dalam hati. Kalimat yang mewakili perasaan hatinya semenjak sebuah lidah menggoreskan luka.

First Bestfriend [ Part 2 ]

Image
“ Iya, Nay. Nggak ada seorang pun yang bisa memisahkan kita.” Aku mengganguk mengiyakan dalam hati. Meresapi semua kata yang telah diucapkan oleh sahabatku itu. Benar juga katanya,  tak ada yang bisa memisahkan kita berdua selain suratan takdir dari Tuhan. Tapi aku yakin, walaupun Tuhan memisahkan kita berdua pun, hati kami masih tetap pada satu sama lain. Karena aku sudah terlanjur menyayangi Kinal, dan begitu juga dengan Kinal yang mungkin sudah menyanyangiku sejak kami bertemu. Tapi entahlah, aku tak tahu betul kebenaran yang ada dalam hatinya.  Apakah rasa sayangnya memang setara dengan rasa sayangku, atau mungkin lebih? Aku pikir iya, karena sejak dia pindah ke sini, dan bertempat duduk di sebelahku kita sudah melalui banyak hal dengan baik, dan tentunya dengan bersama-sama. Aku yakin dia sangat menyayangiku. Bahkan lebih dari rasa sayangku padanya.

First Bestfriend

Image
Bukankah kita selalu bersama?  Bahkan hampir sedetik pun kita tidak pernah saling sendiri. Aku gadis lemah, namun dia pernah membuatku merasakan apa itu hidup. Sungguh, semenjak berkenalan dengannya di sebuah ruang kelas yang sama, aku mulai merasakan apa itu sahabat. Padahal sebelumnya aku mempunyai banyak teman di sekolah, tapi tak pernah sekalipun mempunyai sahabat sebaik dan secantik dia. Semenjak berkenalan dengannya, aku mulai merasakan apa itu sebuah jalinan yang hampir sama dengan percintaan. Ya walaupun aku tau, aku sendiri tak pernah menjalin percintaan dengan siapapun, tapi aku rasa apa yang aku jalani bersama dengannya selama ini lebih terkesan seperti hubungan sepasang kekasih.  Aku salah, dia yang membenarkan. Dia marah, aku yang menenangkan. Bukankah itu yang selama ini orang katakan tentang cinta? Saling melengkapi antar satu sama lain.

Satisfy Answer

Image
Entah kenapa. Selalu saja begini. Bahuku selalu saja terangkat saat dia menatap ke arahku. Jantungku serasa seperti keluar dari peradaannya setiap dia melempar senyum ke arahku. Ada apa ini? Rasa ini seperti tak biasa? Apakah aku menyukainya. Tidak mungkin. Dia adalah temanku, mana mungkin aku mengubah kedekatan kami selama ini menjadi sebuah perasaan cinta. Walaupun dalam hati aku mengiyakan kemungkinan tersebut. Tapi, pastilah konyol jika itu terjadi. Tatapannya selalu saja membuatku merinding, padahal dia bukan hantu. Lirikannya begitu indah, padahal dia bukan bunga matahari di pagi hari. Ah tidak, apakah aku benar-benar menyukainya.

My Angel's Gonna Go The Star

Image
Veranda … Nama yang begitu mempesona. Sama seperti pemilik nama tersebut. Bagaimana tidak ? Rambutnya yang panjang, kelopak matanya yang indah, serta pipinya yang imut itu sudah membuat banyak pria tergoda olehnya. Membuat banyak pasang mata memperhatikannya sekarang, di pertengahan taman kota yang cukup ramai. Sungguh. Lengkungan rupa yang begitu cantik itu telah membuat banyak pria terasa berdesir setiap kali memandangnya. Bahkan sampai sekarang pun tak ada pria yang berani mendekatinya dan menemaninya duduk di salah satu bangku taman. Tak ada yang berani mendekati bidadari secantik Veranda.

Secepat Itu Kah ?

Image
Reuni SMA. Mungkin adalah hal yang aku tunggu akhir-akhir ini. Bertemu dengan teman lama, sahabat lama, serta yang paling penting adalah ... Veranda.  Entah bagaimana sekarang wujudnya dia. Masih sempurna kah seperti dulu ? Ah aku pikir, dia memang selalu ditakdirkan untuk berwujud sempurna.  Jelas, aku masih hafal betul dengan bentuk kedua matanya. Bagaimana kedua alisnya melengkung. Bibir tipis nya yang mampu membuat senyuman manis, serta rambutnya yang begitu lembut aku raba.  Pokoknya semua serba sempurna. Tak terkecuali hatinya yang begitu baik pada semua orang.     Hingga sampai kemudian, hari reuni tersebut tiba. 

Jenderal Kagami yang Berekor Nakal

Image
Sumber : Ankoru Magazine Matanya memerah, membulat, membidik setiap penjuru. Tangannya memegang erat kuat sebuah bendera yang baru saja dia curi dari kerajaan. Jenderal berseragam coklat dengan atribut yang dia pakai kini membuatnya cukup percaya diri dengan dirinya. Tubuhnya yang tetap tegap, walau ratusan musuh tengah menghadangnya di halaman luar kerajaan. Kepalanya yang tetap mendongak, walau dia sendirian berdiri di sana. “ Kau pikir aku akan takut?” tantang gadis pemberani berambut pendek tersebut. Sembari melepas bendera yang terikat di tongkat coklat, dia menyunggingkan senyum remeh kepada semua lawan.

Selamat Ulang Tahun Sinka

Image
Sebuah bus baru saja berhenti. Tepat di sebuah bundaran stasiun yang terletak cukup jauh dari tempatku. Segera saja, setelah aku mendengar berita tersebut, aku bangkit dari kursi tunggu.  Kemudian pergi berjalan mendekati bus di sana, sembari tetap mengunci tatapanku yang tertuju pada sebuah pintu bus yang akan segera dibuka.  Suhu tubuhku dingin, tubuhku terasa ringan, dan ujung jariku tampak gemetar. Rasanya sungguh aku belum siap untuk menemuinya sekarang. Karena memang, kami sudah dua tahun tak pernah bertemu, jadi wajar jika aku gugup untuk melakukannya kembali.

Buku Catatan Kinal

Image
Alhamdulillahhhh...  Hingga pada suatu saat, di mana aku harus melepaskan kenangan yang paling berharga dalam hidupku. *** Aku ingat dengan perkataan ayahku. Beliau pernah berkata bahwa harum seduhan kopi yang menyeruak dari dalam cangkir mampu membuat matamu lebih lama terbuka. Pekat hitam yang tergambar dalam seduhan kopi mampu membuat tubuhmu terasa segar kembali. Namun ternyata tidak semua apa yang dikatakan ayahku benar.  Nyatanya sudah dua cangkir kopi panas masuk ke dalam perutku dan mataku masih saja ingin terpejam.Tubuhku masih saja terasa berat untuk aku gunakan kembali mengerjakan tugas kuliah yang sering merepotkanku akhir-akhir ini. Andai saja tugas kuliah tak sebanyak ini, pasti aku sudah tidur di kasur. Sesekali aku mendengus pelan di depan layar laptop. Tatapan hampa kutujukan pada layar yang membingungkan tersebut. Aku masih bingung dengan apa yang akan aku lakukan dengan tugas-tugasku ini, rasanya sangat lelah sekali. Setelah seharian...

Never Let You Hurt ( Part 4 )

Image
Senja telah datang ke dunia. Mewarnai angkasa dengan sinar jingganya. Udara luar yang mengalir membelai lembut kulit keringku, membuat suasana teras rumah terasa sangat menyenangkan. Aku sendiri duduk di kursi teras, menggeggam sebuah buku fiksi yang sering menemaniku akhir-akhir ini.  Mungkin dengan cara inilah, segala penat seharian akan sirna dibawa angin senja. Bahkan aku sendiri tak peduli dengan apa yang dikatakan Bu Melody tadi pagi. Karena membaca sudah menjadi hobi. Tak ada yang bisa mencegahku untuk menyudahinya.

Never Let You Hurt ( Part 3 )

Image
Ya Ampyunn eneng Depi ~ Malam berbalut angin dingin. Udara yang berhembus di luar memang cukup membuat tulang-tulang manusia membeku. Entahlah, padahal seharian ini tidak hujan, tak juga mendung dengan awan hitam yang tebal, namun angin yang bergentayangan masuk melewati celah-celah ventilasi rumah telah memaksaku untuk membalut tubuhku dengan selimut tebal. Setidaknya tulangku tak akan beku di ruangan ini. Aku tengah berbaring di sofa, tempat biasa aku menonton televisi di ruang tengah. Sembari menggenggam remote , aku melihat Aryo muncul dari kamarnya. Dirinya sudah terbalut rapi pakian mahal yang biasa dibelinya di distro langganannya. Serta wangin tubuhnya yang menusuk cukup menandakan bahwa malam ini dia akan pergi keluar lagi. Sepertinya Aryo memang dilahirkan untuk gemar keluar rumah. Sungguh berkebalikan denganku.