Bukan 'HABIS', Tapi "PINDAH'

Hidup ini seperti apa yang pernah dikatakan Ariel, "Tak ada yang abadi" . Gue bukan bermaksud mempercayai Ariel, namun benar yg dikatakanya. Semua yg ada di dunia ini hanyalah tipuan belaka. Mengapa tipuan? Karena sementara. Yap.,semuanya sementara. Semuanya labil! Bisa hilang kapan saja.

Begitu juga Teman. Teman yg kita rasakan bakal hidup bersama selamanya siapa sangka kelak kemudian hari dia akan menghilang dan terdiam sendiri. Membiarkan kita menangisinya. Sementara dia, hanya Kaku dan pucat. Dingin dan lemas. Tak ada tenaga sembari berbaring dibalik kafan.

Kamu capek ya kawan? Beristirahatlah

Mati itu sudah pasti, tapi kita tdk dpt memastikan kapan mati kan mendatangi kita. 

Entah nanti kita mati saat berdiri,
duduk atau berbaring. Entah nantinya mati kan menyakiti kita atau akan mendamaikan kita.

Namun gue yakin. Temen gue kemarin meninggal dengan damai. Bukan hanya damai saja tapi juga ganteng. Ganteng menghadap ke Rahmatullah.

Ini cukup mengagetkan buat kita semua. Baru saja tadi sore kau bermain tenis meja bersama Giri, dama, faiz (@swisherfaiz) dan Eka Putra. Mereka tak percaya kau telah tiada. Karena kau masih bersama mereka waktu itu. Walaupun faiz sendiri tau kalo waktu itu kamu cukup pucat di matanya. Bibirmu memutih dan wajahmu tak seperti biasa . Apakah ini tandamu, kawan?

Baru saja tadi sore kamu berjamaah shalat maghrib di masjid bersama bahtiar (@bahtiaras). Dia juga tak percaya kau kan pergi nantinya. Karena kau terlihat masih bugar waktu itu di matanya. Semua yg berjamaah di masjid itu tak pernah menyangka, bahwa ini adalah shalat jamaah terakhirmu,kawan.

Baru saja tadi malam. Saat kita berkumpul seperti biasa. Kau lewat dihadapan kami. Kau tampak ceria bersama kakakmu. Waktu itu kau Pulang dari Rental PS. Ya..Aku tau sekali bahwa kau suka main PS. Semua teman-teman yg menantangmu pasti kamu layani dengan senang hati. Dan siapa sangka, hari itu adalah hari terakhir kalinya kau menggenggam stik PS.

Sehabis pulang dari rental PS. Kau bergegas menonton TV bersama daru di rumahnya. Dan waktu itu kau tidak mengeluh sakit apapun. Tapi mengapa kau jadi begini?

Setelah kau lelah menonton tv, kau bergegas pulang ke rumah mengajak nenekmu untuk tidur. Sepertinya kau capek ya kawan?

Di lain tempat. Aku bersama teman-teman bercanda ria. Bertukar pikiran dan saling berbagi ilmu. Dan waktu itu tanpa kehadiranmu teman. Kami tertawa terbahak-bahak. Sampai pada akhirnya, kami melihat kau berbaring di pelukan kakakmu yg mulai menggelisahi kebisuanmu.

Kau dilarikan ke klinik dokter terdekat. Melihat keadaanmu yang seperti itu, dokter menyarankan kakakmu untuk membawamu ke rumah sakit. Tampaknya kau butuh oksigen teman. Sabar ya? Kakakmu sedang berjuang.

Dan taukah kamu? Dibalik kebisuanmu,ada jeritan tangis yang menyelimuti nenekmu. Beliau mengkhawatirkanmu di rumah, sangat mengkhawatirkanmu. Beliau meminjam hp tetangga untuk menelpon kakakmu (kakak yang lain) yang sedang memperjuangkan hidup di kota Bandung..

Aku dan teman2 hanya berdiam dan memandang nenekmu yg tengah diselimuti kekhawatiran. Kami memang pengecut, karena kami tak tau harus melakukan apa. Namun, kami juga tau nenekmu sudah ada yang menenangkan.

Kegembiraan kami yang tadi sempat terpancar, tiba-tiba berubah menjadi kegelisahan. Ku harap kau selamat,kawan.

Entah setan apa yang merasuk di tubuh @bahtiaras dan @swisherfaiz . Mereka malah berniat membuat bara api untuk menghempas dinginya malam yang menusuk raga kami. Tapi itu bukan masalah. Karena kami tau, kamu pasti selamat,kawan.

Setelah kami kumpulkan kayu-kayu yg sekiranya cukup untuk kami bakar. Belum sempat kita goreskan batang korek api. Tiba-tiba Daru mengajak kami ke rumahmu.

Di depan rumahmu kami berdiri. Melihat nenekmu yang masih histeris. Melihat orang-orang yang juga mengkhawatirkanmu. Dan kami hanya terdiam membisu.

Sampai ketika tetangga mendapat kabar lewat telepon. Kabar tentang kau kawan. Kabar yang akan menjawab semua kekhawatiran. Dan kabar yang membuat kami harus melinangkan air mata.

Kau telah tiada. Itulah kabarnya

Kau telah tiada. Itulah kebenaranya

Tubuh kami lemas seketika. Setelah mendengar kabar itu. Kami tak percaya. Sampai pada akhirnya ketidakpercayaan kami terpatahkan.

Mobil yang membawa kakakmu telah datang. Kakakmu turun dari mobil dan bercucuran air mata. Sembari menemui nenekmu yg sedang mengkhawatirkanmu dan memarahi kakakmu. Beliau berteriak, "Cucuku kamu sudah sembuh kan?" berulang ulang kali seperti itu. Apakah ini artinya kabar itu BENAR? 

Iya Benar. Ambulan tak lama kemudian datang ke rumahmu. Membawa jasadmu yg tak mampu kau gerakkan.

Datangnya ambulan itu membuat, Kami semua lemas. Benar-benar lemas. Begitu juga nenekmu yang masih histeris. Hanya sedikit orang yg berani menenangkan nenekmu.


Diboponglah kau ke dalam rumahmu. Lebih tepatnya rumah dimana kau menghabiskan hidupmu dengan kasih sayang kakek,nenek, kakak dan pamanmu.

Iya..Aku tau kamu jarang sekali bertemu dengan orang tuamu. Kau jarang sekali mendapat pelukan dari ibumu. Mengingat ibumu memang kurang ajar kepadamu

Ayahmu? Aku tak pernah tau bagaimana sosoknya. Kau belum pernah memperkenalkannya padaku. Iya..Aku tau. Dia sudah tak pernah pulang ke rumah. Kasihan kamu,kawan.

Dulu saat ibumu pulang. Dulu sekali. Kau mendapat hp baru pertamamu. Kau gembira ya? Walaupun akhirnya hp tersebut rusak dan tak berfungsi.

Sempat pernah kau meminta pada nenekmu untuk membelikan hp lagi. Namun nenekmu tidak menjanjikan permintaanmu. Ehm..sungguh Bijaksananya kau ketika menjawab "kapan-kapan saja nek kalau dapat rejeki."
kau hebat kawanku.

Namun kau tak tau kan? Kakakmu sedang merencanakan kejutan kecil buatmu. Kecil tapi besar buatnya. Kakakmu yang membopongmu tadi telah membelikan sepatu baru buat sekolahmu nanti. Sungguh beruntungnya kau mendapatkanya.

Dan kini kau terbujur lemas. Nenekmu menangis di atasmu. Menagih ajakanmu yang katanya kau mengajaknya untuk tidur bersama. Tidur dengan balutan kasih sayang sebagai nenek dan sebagai cucu.

Namun kau mengingkarinya. Kau lebih memilih menjemput kakekmu, yang belum genap 40 hari yang lalu telah meninggalkanmu. Dan juga menjemput kakakmu yang telah meninggalkanmu sewaktu kau masih kecil.

Dan kau meninggalkan tumpahan air mata nenekmu dan orang-orang yang telah hadir di rumahmu ini.

Kau meninggalkan semuanya. Cinta,harta, hormat dan kasih sayang.

Dan aku hanya terpaku dan melihat sosokmu untuk terakhir kalinya. Namun matamu kau sembunyikan dari hadapanku. Kau memejamkan mata untuk selama-lamanya.

Aku duduk sambil twitteran. Ku kabarkan ke dunia maya. Bahwa temanku telah selamat. Selamat dalam arti Selamat menghadap kepadaNya.

Kami semua datang membantumu. Membantu mempersiapkan perayaan keselamatanmu. Kursi kami angkat ke rumahmu. Lampu kami pasang ke rumahmu. Semua yang kau butuhkan telah kami persiapkan.

Saat kau dimandikan, ku tak sanggup menyaksikanya. Karena waktu itu, aku kebanjiran mention.

Sampai hari sudah berganti. Aku izin untuk pulang dulu. Aku tidur dulu ya kawan? Disini sudah banyak sekali yang menjagamu.

**

Keesokanya aku datang lagi ke rumahmu. Berniat untuk menemani perjalananmu ke tempat terakhirmu.

Disana banyak sekali orang yang hadir. Mereka peduli sama kamu. Guru-guru dan teman-teman sekolahmu juga ada kok. Mereka membawakanmu rangkaian bunga.

Kami semua mendoakanmu dari rumahmu sampai ke tempat terakhirmu. Mendoakan anak yang sangat patuh pada neneknya. Kau tau ? Kau terkenal kawan. Kau terkenal patuh di mata kami. Dan itu tak bisa dipungkiri lagi.

Hingga saat kau dimakamkan, kau masih saja patuh kepada kami. Kami hadapkan kau ke kiblat dan kau tak mengelak.

Ada satu yang ganjil pada acara pemakamanmu. Yaitu tidak hadirnya nenekmu. Nenekmu yang tua rentang, tak bisa mengantarkanmu ke tempat terakhir. Kemampuan raga beliau sudah terbatas.

Kami panjatkan doa untukmu ketika kau sudah masuk ke dalam istanamu. Istana yang sederhana kami buat dengan peralatan seadanya.

Setibanya disana, Hanya ada satu yang bikin aku gemetar. Yang aku lihat adalah kuburanmu. Kau telah tiada.

Sempat dan hampir aku melinangkan air mata. Saat tumpukan tanah mulai menutupimu. Namun aku tau, itu semua tak akan bisa membuatmu kembali ke dunia ini. Berkumpul bersama lagi. Bermain tenis meja lagi. Berbuka puasa bersama lagi.

Ketika waktu telah membuat kami terpaksa meninggalkanmu. Aku menuruti waktu. Kami semua menuruti waktu. Dan maaf aku tak membawakan bunga untuk kutaburi di kuburanmu. Tapi tanpa dengan bunga bukan berarti sosokmu kan menghilang dari ingatan. Kau masih stay in our mind ,guys.

Langkah demi langkah, kami meninggalkanmu. Tapi langkahan kami tak menjauhkanmu dari pikiran kami.

Ketika ku melangkahkan kaki sedikit demi sedikit meninggalkanmu, sempat ku menguping pembicaraan orang lain. Mereka sedang membicarakanmu. Mereka memberikanmu kiasan 'Kontrakmu Habis' di dunia ini. Tapi menurutku itu salah.

Kamu belum habis, melainkan pindah jabatan. Kamu masih dikontrak, teman. Hanya saja jabatanmu berbeda dan kau terpaksa dipindahkan ke perusahaan lain.

Semoga sukses di perusahaan barumu.

____________________________________

Kita sering memandang orang pada sisi negatifnya saja. Namun saat kita kehilanganya, kita kan memandangnya pada sisi yang berlawanan. Yaitu sisi positif.

Ketika kita sudah berhasil memandang sisi positifnya, maka kita kan merasa menyesal telah menyia-nyiakanya.

Jadi cintailah siapapun selama ALLAH masih mempertemukanmu pada siapapun.

Peluklah orang yang kau sayangi sebelum kau memeluknya dengan air mata dan sementara dia hanya membisu.

Comments

Popular posts from this blog

Fungsi,Syarat,Bahan Utama,dan Bentuk Komponen Rangka Sepeda Motor [Otomotif]

Keseimbangan Cinta

Jenderal Kagami yang Berekor Nakal