Ada Kesungguhan di Balik Kesuksesan


Siapa sih yang tak mau sukses? Bahkan ketika kita berkecimpung di bidang apapun, kita pasti berharap untuk bisa menjadi sukses. Tak terkecuali di bidang pendidikan. Semua siswa ingin menjadi siswa yang pintar, mendapatkan beasiswa, mudah bergaul dan lain sebagainya. Namun tak semua keinginan bisa kita wujudkan. Karena semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kita menyikapinya dengan baik, maka kita akan terbawa pada jalan menuju keinginan tersebut. Namun jika kita menyikapinya dengan ceroboh atau menyepelekan, maka keinginan kita akan semakin jauh dan sulit untuk kita dapatkan.

Lalu bagaimana cara menyikapinya?

Saya akan memberikan ilustrasi sederhana, yaitu antara dua orang yang mempunyai keinginan  sama, namun masing-masing mempunyai cara penyikapan yang berbeda. Semisal Andi dan Beni ingin menjadi juara kelas, oleh karena itu Andi setiap malam selalu belajar dengan giat dan rajin. Tapi sebaliknya Beni setiap malam hanya asyik menonton tv, tidak pernah belajar dan suka bermain game. Dan alhasil,  setiap ada ulangan di sekolah, Andi selalu mendapatkan nilai maksimal, karena dia telah mempersiapkan dirinya sejak awal dengan belajar. Namun bagaimana dengan Beni? Sudah barang tentu Beni akan mendapatkan hasil yang  kurang maksimal, karena dia tidak pernah mempersiapkan dirinya dengan belajar. Hal ini jika berlangsung terus menerus,  dapat kita simpulkan bahwa prestasi Andi akan lebih baik daripada Beni. Dan bisa jadi tak hanya Beni saja, prestasi Andi akan juga melebihi para siswa lain dan menjadikannya sebagai juara kelas. Logis kan? Tentu

Bagi seorang muslim pasti pernah mendengar pepatah “ Man jadda Wa jadda”. Ya, pepatah ini cukup terkenal di kalangan para pelajar. Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya ingat betul kepada seseorang yang sering memotivasi saya dengan pepatah tersebut. Beliau adalah Bapak Tri Widodo, M.Pd , guru mata pelajaran Sejarah saya dulu saat saya masih SMP. Beliau sempat menjelaskan arti dari pepatah tersebut, yaitu : Siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil.

Dalam ilustrasi yang saya berikan tadi menunjukan bahwa Andi sangatlah bersungguh-sungguh, sedangkan Beni tidak bersungguh-sungguh dalam meraih keinginnnya.  Dan pada akhirnya kesungguhan membawa Andi pada kesuksesan.

Kesungguhan adalah kunci kesuksesan dan Kesuksesan tak luput dari kesungguhan. Namun bagaimana sebenarnya arti dari bersungguh-sungguh? Menurut saya, bersungguh-sungguh itu bukan hanya sekedar bekerja keras, namun juga niat dan doa. Ketiga poin tersebut harus ada pada diri kita. Saya akan sedikit menjelaskan tentang definisi dari ketiga poin tersebut.

1. Niat

Dalam melakukan sesuatu, kita harus berniat terlebih dahulu. Karena dengan niat kita akan tahu apa alasan kita melakukan hal tersebut. Misal ketika kita berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat ke sekolah, kita harus tentukan terlebih dahulu apa alasan kita ke sekolah.

Misal saya berangkat sekolah karena ingin mendapatkan ilmu, memperoleh pendidikan dan menambah pengetahuan. Jadi nanti ketika saya sudah tiba di sekolah, saya akan mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh dan berinisiatif pergi ke pepustakan untuk mencari tambahan ilmu. Karena memang niat saya seperti itu.

Namun jika siswa berangkat ke sekolah karena hanya sekedar ingin dipandang baik oleh orang lain,  agar dapat uang saku dari orang tua, mencari pacar, dan lain sebagainya, itu nanti mereka tidak akan nyaman berada di sekolah. Tak betah dan selalu ingin pulang ke rumah.  Maka tak heran banyak siswa sering tertidur dan membolos saat proses belajar mengajar berlangsung.

Jadi niat adalah penentu apa yang akan kamu lakukan. Jika kamu berniat untuk kebaikan, maka perbuatanmu akan baik dan hasilnya pun juga akan baik. Dan sebaliknya jika kamu berniat untuk keburukan, maka perbuatan dan hasilnya pun akan serba buruk. Oleh karena itu, untuk menggapai keinginanmu yang baik, awalilah dengan niat yang baik dan sungguh-sungguh.

2. Kerja Keras

Setelah kamu berniat dengan sungguh-sungguh, selanjutnya kamu harus beraksi. Kerahkanlah semua kemampuanmu , semaksimal mungkin yang bisa kau lakukan untuk menggapai keinginanmu, itulah yang dinamakan kerja keras. Kerja keras sangatlah penting dalam menggapai keinginan. Karena tanpa adanya kerja keras, niat hanya akan menjadi sekedar niat belaka.

Sebagai contoh misal saya berniat pergi ke sekolah menggunakan bus. Jika saya hanya berdiam diri terus di rumah dan berniat pergi ke sekolah, apakah saya akan mendapatkan bus? Tentu saja tidak. Kondektur tidak akan mungkin masuk ke rumahmu dan menggendongmu masuk ke dalam bus . Itu konyol.  Jadi suatu impian besar tercapai tanpa kerja keras, itu konyol. Walaupun tingkat kemungkinan terjadinya memang ada. Tapi itu kecil.

Contoh lagi misal kamu ingin diterima di sekolah favorit. Apakah mungkin pihak sekolah akan menerimamu langsung tanpa mendaftar dan mengikuti tes seleksi di sekolahnya? Mungkin saja. Jika kamu memanglah siswa yang sangat pintar dan pihak sekolah sendiri juga memerlukan siswa yang seperti kamu. Tapi bukankah untuk menjadi siswa yang pintar itu butuh kerja keras? Sangat butuh sekali. Tentu untuk menjadi siswa pintar kita harus belajar keras, belajar cerdas, dan belajar ikhlas.

Belajar keras bukan berarti kita harus belajar secara arogan, tak kenal waktu, atau apa. Namun belajar keras adalah belajar yang penuh disiplin, teliti dan cermat. Guru saya pernah berkata bahwa lebih baik belajar setiap hari 1 jam, daripada belajar 10 jam tapi hanya sekali dalam satu minggu.  Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa disiplin belajar itu sangatlah penting. Karena jika setiap hari kita belajar, maka otak kita akan ‘Update’ dengan ilmu-ilmu terbaru. Namun jika kita jarang belajar, itu sama saja membiarkan otak kita ‘Out Of Date’ dengan ilmu-ilmu baru yang seharusnya kita dapatkan. Selain disiplin, teliti dan cermat juga penting. Karena kita harus paham betul dengan apa yang kita pelajari, jadi jangan sia-siakan waktu hanya untuk tidak memahami apa yang kita pelajari.

Belajar cerdas adalah belajar yang penuh dengan inovasi, kreatif, atau membuat yang rumit menjadi sesederhana mungkin.  Jika kamu mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk berinovasi. Temukan apa yang membuatmu merasa kesulitan dan bagaimana cara mengatasinya. Saya dulu pernah merasa terganggu jika belajar di kamar. Karena adik saya selalu mengetuk pintu kamar saya saat saya sedang belajar.  Pernah saya tegur beberapa kali, namun adik saya masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu privasi. Jadi sebagai kakak, saya harus mengalah. Mengalah di sini bukan berarti berhenti belajar. Saya tetap belajar, hanya saja tempatlah yang membedakan. Dan solusi saya waktu itu yaitu saya harus mengungsi di rumah nenek, dan belajar dengan tenang di sana. Jadi apapun yang membuatmu sulit untuk belajar, ketahuilah dulu apa penyebabnya, lalu carilah solusinya. Jangan putus asa dulu. Kamu diberikan otak untuk berfikir lebih cerdas.

Balajar Ikhlas adalah belajar bagaimana kita bersyukur kepada Allah. Apa yang telah kita dapatkan di dunia ini tak luput dari kuasa Allah SWT. Perlu kita ingat bahwa manusia hanya bisa berencana namun hanya Allah yang bisa menentukan. Jadi kita serahkan saja semua apa yang sudah kita lakukan ini kepada Allah SWT dan selalu berprasangka baik bahwa Allah pasti akan memberikan hasil yang terbaik buat kita.  Walaupun hasil yang diperoleh nantinya bukanlah yang kita harapkan, tapi jadikan itu sebagai motivasi pembenahan.  Itulah yang dinamakan tawakal dan ikhlas kepada Allah SWT.


3. Doa

Poin ini mirip seperti apa yang telah dijelaskan pada arti dari belajar ikhlas. Jadi intinya kita harus bertawakal kepada Allah. Setelah kita berusaha dengan semaksimal mungkin, serahkan semua itu kepadaNya. Dan terus berdoa agar keinginan kamu terwujud.

Hal ini juga saya terapkan saat mengikuti seleksi ujian tertulis penerimaan siswa baru di SMP saya dulu. Sebelum seleksi, saya telah banyak melakukan persiapan. Dari belajar kelompok, belajar sendirian dan mengikuti les mata pelajaran di rumah tetangga. Semua itu saya lakukan karena saya sangat ingin diterima di sekolah yang saya pilih. Yaitu SMP Negeri 1 Wonogiri.

Hingga hari tes seleksi tertulis pun tiba. Saya kerahkan semua kemampuan yang ada untuk mengerjakan soal yang ada di meja. Perlahan tapi pasti dengan teliti saya mengatasi. Beragam soal seakan menghantui. Ada beberapa soal yang menagis karena berhasil dikerjakan, dan ada pula beberapa soal yang tertawa melihat saya menggaruk-garuk kepala.

Hingga bel tanda waktu telah habis pun berbunyi. Setelah itu yang ada di pikiran saya adalah menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Setelah apa yang saya perjuangkan barusan, saya serahkan hasilnya kepada Allah.  Karena hanya Dia yang bisa menentukan. Tak cukup bertawakal saja, tapi juga setiap hari saya berdoa kepadaNya. Agar Allah mengabulkan apa yang saya inginkan.

Dan Alhamdulillah, saat hari pengumuman, saya divonis menjadi siswa SMP Negeri 1 Wonogiri. Saya berhasil. Saya berhasil menjadi siswa SMP Negeri 1 Wonogiri. Salah satu keinginan saya waktu itu terwujud. *Ngelapin Air mata*

Coba hitung ada berapa AC yang narsis pada foto di atas. 

Begitulah pengalaman saya. Sesuatu yang saya inginkan akhirnya bisa terkabul. Hal itu tak mudah terkabul begitu saja. Tentu ada perjuangan di balik kesuksesan. Perjuangan yang terdiri dari Niat, Kerja Keras, dan Doa. Niat yang baik, Usaha yang maksimal dan lalu tawakal dan berdoa kepadaNya.

Man jadda Wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil.  Tetaplah berjuang meski hambatan melintang. Jangan mudah menyerah karena d’Masiv pernah bilang begitu di acara Dahsyat. Semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

Fungsi,Syarat,Bahan Utama,dan Bentuk Komponen Rangka Sepeda Motor [Otomotif]

Keseimbangan Cinta

Jenderal Kagami yang Berekor Nakal