Imam



Pintu kamar sedikit terbuka. Sementara seorang ibu tengah mengamati anaknya dari sela-sela pintu tersebut. Beliau mendapati putranya tengah melaksanakan sholat di samping tempat tidur.

Beliau kemudian menangis. Bersyukur kepada Tuhan. Baru kali ini dia melihat putranya sudi menggelar sajadah. Bersimpuh dan bersujud. Membaca alunan asma Allah dari bibirnya. Padahal sebelumnya, anak tersebut jarang pulang ke rumah. Berkeliaran ke klub malam, dan tidur di rumah teman.

"Anakku."


Beliau mendekat ke arah putranya yang tengah melipat sarung. Putranya cukup terhenyak dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba, "Ada apa, Bu?". Randa mengisyaratkan kebingungan saat melihat selapis bening menggantung pada kedua mata ibunya. "Ibu kenapa menangis?"

Sang ibu hanya menggeleng. Sembari tersenyum, beliau meraih salah satu pundak anaknya, "Tidak, Nak. Ibu hanya bangga denganmu," terang sang Ibu membuat Randa semakin bingung. "Bangga kenapa?"

"Kamu sekarang jadi rajin sholat, berdzikir dan membaca Al Quran."

"Oh itu?" Sang Ibu mengangguk.

"Ini semua Randa lakukan agar kelak aku bisa menjadi imam yang baik," terang Randa pada Ibunya yang tengah menyeka air matanya yang masih membekas di sudut.

"Imam yang baik?" Randa mengangguk, "Ya. Randa ingin menjadi imam seperti almarhum Ayah."

Sang Ibu mengusap-usap rambut putranya, sembari tersenyum pada putra semata wayangnya tersebut, "Menjadi imam yang baik itu tidaklah gampang, nak. Butuh perjuangan seperti ayahmu dulu."

"Perjuangan? Perjuangan seperti apa, Bu?" tanya Randa kepada wajah Ibunya yang berseri.

"Dahulu ayahmu bukanlah ustad. Beliau adalah preman pasar yang suka nongkrong di pasar,-"

"Lalu?" ucap Randa menganggapi penjelasan Ibunya yang terpenggal.

"Kemudian beliau bertemu dengan Ibu yang katanya adalah wanita tercantik yang pernah beliau temui." sambung sang Ibu sembari tersenyum malu.

"Ayah menyukai ibu?"

"Ya, dan Ibu juga menyukai ayahmu." jelas beliau lagi.

"Bagaimana bisa Ibu menyukai preman pasar, bukankah itu mengerikan?" tanya Randa sembari sedikit tertawa.

"Bukankah cinta itu tanpa alasan?"

"Ya memang," Randa manggut-manggut. Kemudian menuruti gerakan Ibunya yang duduk di tepi kasur.

"Waktu itu Ibu berkata kepada ayahmu bahwa beliau harus menjadi orang yang baik, sebelum melamar Ibu," ucap sang Ibu sedikit berusaha mengingat kenangannya. "Alhamdulillah, dalam waktu satu bulan dia sudah bisa membaca Al Quran. Ayahmu sudah taubat dari sifat buruknya."

"Kekuatan cinta," gumam Randa sembari tersenyum mendengarkan cerita dari ibunya.

"Akhirnya, ibu menikah dengan Ayahmu. Dan ibu sangat bangga mempunyai imam yang baik seperti beliau," kata Ibu Randa mengusap sekali lagi rambut putranya.

"Jadi, kalau kamu ingin menjadi imam yang baik, kamu harus memberikan perjuanganmu untuk wanita yang kau cintai. Mengerti ?"

"Mengerti, Bu." ucap Randa mantap sembari melukis wajah Kinal pada pikiran. 

Comments

  1. Halo, Aji. Aku sudah membaca cerpenmu.

    Secara keseluruhan, cerpenmu sudah baik. :D Tinggal memperbanyak latihan dan latihan agar kamu semakin baik dan semakin baik lagi. :D

    Oh ya. Aku punya satu tips menulis untuk cerpen ini:
    "Biasakan ketika membuat kalimat langsung, tulisanmu diawali atau diakhiri oleh penjelasan tentang siapa tokoh yang mengucapkan kalimat tersebut."

    Kebetulan, tadi aku sempat kesulitan ketika membedakan apakah salah satu kalimat yang ada di cerpen tersebut diucapkan oleh sang ibu atau sang anak. (?)

    Nah.. Alih-alih langsung membuat tulisan tentang tokoh lain, atau langsung memotongnya dengan deskripsi lain, sebaiknya ketika kamu menulis kalimat langsung, deskripsikan dengan jelas siapa tokoh yang mengucapkan kalimat langsung tersebut.

    Dengan demikian, pembaca tidak bingung lagi sebuah kalimat langsung yang ditulis ini sebenarnya diucapkan oleh tokoh siapa. Pembaca bisa dengan lebih mudah membayangkan percakapan itu diucapkan oleh sang tokoh dan bisa fokus menikmati plot cerita yang sedang kamu tulis.

    That's all. Ok, keep the good work, ya!
    Selamat menulis! ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Kebebasan berpendapat itu,mulai sejak ini kamu berkomentar

Popular posts from this blog

Fungsi,Syarat,Bahan Utama,dan Bentuk Komponen Rangka Sepeda Motor [Otomotif]

Keseimbangan Cinta

Jenderal Kagami yang Berekor Nakal